Kamis, 18 Juli 2019

"BLOODY SUNDAY" #21

Minggu Berdarah (bahasa InggrisBloody Sundaybahasa RusiaКровавое воскресеньеKrovavoe voskresenʹe) adalah sebuah insiden pada 22 Januari 1905 di Saint PetersburgRussia, ketika demonstrasi damai oleh demonstran tak bersenjata yang berbaris untuk menyampaikan petisi kepada Tsar Nicholas II ditembak oleh Penjaga Kenegaraan. Peristiwanya terjadi ketika mereka mendekati pusat kota dan Istana Musim Dingin dari berbagai tempat berkumpul. Penembakan tidak terjadi di alun-alun istana. Minggu Berdarah berakibat serius bagi rezim Tsar, karena mengabaikan rakyat biasa seperti ditunjukkan oleh reaksi dari pihak berwenang berakibat pada tergerogotinya dukungan rakyat terhadap negara. Peristiwa yang terjadi pada hari Minggu ini telah dinilai oleh para sejarawan, termasuk Lionel Kochan dalam bukunya Russia in Revolution 1890-1918, sebagai salah satu peristiwa penting yang akhirnya menyebabkan Revolusi Rusia pada tahun 1917.

Saat itu rakyat pun tak puas atas kekalahan negaranya dalam peperangan melawan Jepang pada 2 Januari 1905. Kala itu Jepang berhasil menghantam dan menghancurkan angkatan laut Rusia di Port Arthur.

Akibat kungkungan yang kian mencekik, pada 22 Januari 1905, seorang pastor radikal Georgy Apollonovich Gapon memimpin ratusan orang Rusia berdemonstrasi dan menyuarakan protes terhadap Tsar Nicholas II di Istana Musim Dingin di St. Petersburg. Mereka pun mengutarakan beberapa tuntutan terhadap Tsar.

Namun, alih-alih didengarkan, Gapon dan ratusan orang yang terlibat dalam aksi tersebut justru diberondong tembakan oleh pasukan kekaisaran. Sedikitnya 500 orang tewas dan ratusan lainnya terluka akibat berondongan tembakan.
Kebiadaban pasukan kekaisaran akhirnya memicu gelombang demonstrasi dan kerusuhan yang kian masif di seluruh Rusia. Rakyat menyatakan kecamannya atas pembantaian di Istana Musim Dingin.
Pada Oktober 1905, Tsar Nicholas II yang digencet dari semua sisi, dipaksa untuk memberikan kebebasan sipil dasar dan badan perwakilan nasional yang anggotanya dipilih oleh hak pilih terbatas.
Namun, badan perwakilan nasional yang dikenal dengan nama Duma ini dibubarkan setelah menentang kewenangan Nicholas. Sisa-sisa gerakan revolusioner pun kemudian secara brutal ditumpas oleh Nicholas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Potensi Seorang Rahel

hallaaww aku mau cerita nih, jangan diskip yaaaa;) Aku Rahel Zefanya Adelia , usiaku 21 tahun, sekarang aku adalah mahasiswi gunadarma jur...